{"id":665,"date":"2023-02-06T15:57:01","date_gmt":"2023-02-06T15:57:01","guid":{"rendered":"http:\/\/rifandinugroho.com\/?p=665"},"modified":"2023-11-01T13:22:06","modified_gmt":"2023-11-01T13:22:06","slug":"dokumentasi-warga-demokratisasi-ruang-membaca-ulang-koleksi-arsip-anak-sekitar-dam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rifandinugroho.com\/?p=665","title":{"rendered":"Membaca Sisi Afektif Arsip Anstardam"},"content":{"rendered":"\n\n\n<span style=\"color:#000000;\"><p class=\"MsoNormal\">Anak Sekitar Dam (Anstardam) adalah kelompok pemuda dari sekitar\nGang Haji Namun, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lokasi tongkrongan mereka berjarak\nkurang lebih 200 meter dari Gudskul. Pada tahun 2006, Kebun Binatang Ragunan\nmembangun danau buatan di lingkungan kampung mereka dan menyisakan tanah sisa\ngalian yang terbengkalai menggunung. Pemuda setempat kemudian meratakannya\nuntuk bermain sepak bola. Bermula dari tim bola, lambat laun Anstardam punya\nbanyak divisi baru, seperti tim futsal, layangan, produksi, dan Himpunan\nPecinta Alam (Himpala) yang tidak hanya hobi naik gunung, tetapi juga aktif\nmenyelenggarakan kegiatan sosial kemanusiaan.<br><\/p><p class=\"MsoNormal\"><br><o:p><\/o:p><\/p><p class=\"MsoNormal\">Pada Januari lalu, Anstardam menggelar pameran arsip 17\ntahun perjalanan komunitas mereka, berkolaborasi dengan seniman dan peneliti\ndari Gudskul Ekosistem. Arsip-arsip yang ditampilkan terdiri dari foto, poster,\ndan objek artefak produksi kolektif. Sebagian besar foto lawas bersumber dari koleksi\nkeluarga Ibu Manih dan (alm.) Abah Madrais bin Haji Samali, orang tua dari\nsalah satu pendiri Anstardam. Olahan visual seperti film dan karya grafis juga\nditampilkan untuk menginterpretasikan narasi yang ada di arsip<\/p><\/span>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n<span style=\"color:#000000;\"><p class=\"MsoNormal\">Dari kolaborasi singkat itu, saya belajar bahwa arsip komunitas\nwarga punya banyak potensi untuk tidak hanya menarasikan komunitasnya sendiri,\ntetapi juga menggambarkan sejarah sosial warga, budaya populer, dan perubahan tipologi\nruang sekitar Jagakarsa yang belum banyak tertulis di buku sejarah. Selain\nbernilai sebagai sumber informasi, arsip komunitas warga juga bisa menjadi\nmedia pewaris ingatan antar keluarga dalam lingkungan tempat tinggal. Arsip-arsip\nitu juga mendekatkan hubungan antar generasi yang sebelumnya terpisahkan karena\nkepindahan, kematian, atau perpisahan lainnya.<br><\/p><p class=\"MsoNormal\"><br><o:p><\/o:p><\/p><p class=\"MsoNormal\">Sebagai contoh, dari sekian tangkapan momen berkumpul warga\ndi rumah Ibu Manih, tampak aktivitas sehari-hari seperti nongkrong, rapat\nwarga, atau perdagangan di teras rumah. Jika diamati lebih jauh, foto-foto\ntersebut menujukan jejak tipologi rumah warga sekitar Gang Haji Namun yang\ndulunya punya seban (serambi depan) sebagai area semi publik, mirip seperti rumah\nSi Doel Anak Betawi. Menurut Ibu Manih, seban rumahnya dulu jadi tempat nongkrong\nfavorit warga sekitar karena cukup lega dan punya pemandangan sekitar yang\nmasih alami. Seiring bertambahnya penduduk, sekarang pemandangannya tertutup\ndinding rumah tetangga, seban rumah pun menyempit karena dibangun kamar\ntambahan.<\/p><\/span>\n\n\n<p><br><\/p>\n\n\n\n<span style=\"color:#000000;\"><p class=\"MsoNormal\"><o:p><\/o:p><\/p><p class=\"MsoNormal\">Contoh foto lain adalah potret kegiatan warga dengan latar dam\nyang baru terbangun. Sekilas, foto itu menampilkan keriuhan warga merayakan \u201cruang\npublik\u201d sekitar dam yang baru, seperti berdagang, bermain bola, dan menggelar perlombaan\n17 Agustus. Di sisi lain, kehadiran dam mungkin juga jadi penanda bahwa Gang Haji\nNamun secara alami berada di dataran rendah, tempat air dari lingkungan sekitar\nmengalir ke sana. Pembangunan mengubah sebagian lanskap Jagakarsa secara\nsignifikan, dari yang semula mengandalkan resapan alami menjadi waduk buatan. <br><br><o:p><\/o:p><\/p><p class=\"MsoNormal\">Anak-anak Anstardam tidak hanya mengalami perubahan ruang\nsekitar Jalan Durian dari tahun ke tahun, tetapi juga turut aktif memproduksi\nruang publik alternatif di era awal pasca reformasi. Mereka menyaksikan empang-empang\nyang diurug, kebun-kebun yang menjadi rumah, jalan tanah yang berganti aspal. Beberapa\nkali akses menuju lahan lapangan dan dam ditutup tembok pembatas oleh pihak pemilik\nlahan. Tetapi, di mana ada pembatas, di situ ada jebolan. Tembok-tembok itu mereka\nlubangi lagi. Dengan begitu, warga punya akses ke lapangan, dam, dan akses jalan\nyang lebih efisien ke lingkungan sekitar. Ruang yang diprivatisasi kembali dibongkar untuk publik.<\/p><\/span>\n\n\n<span style=\"color:#000000;\"><p class=\"MsoNormal\">Selain yang tampak di dalam foto, bagaimana foto diambil juga\nmenarik untuk ditelusuri. Karen Strassler (2010) dalam penelusuran budaya\ndokumentasi di Jawa mencatat, kesadaran \u201cdokumentasi keluarga\u201d, foto \u201ckenang-kenangan\u201c,\natau \u201cdokumentasi sejarah\u201d begitu merebak di Jawa di era pasca reformasi,\nmeskipun masih dihantui oleh lemahnya kesadaran nilai arsip sebagai dokumen\npublik oleh negara. Upaya dokumentasi yang demokratik mulai menggeser praktik\ndokumentasi yang sebelumnya dipakai sebagai alat perpanjangan kontrol dari negara\ndi masa Orde Baru.<br><\/p><p class=\"MsoNormal\"><br><o:p><\/o:p><\/p><p class=\"MsoNormal\">Dengan \u201ctustel\u201d 35mm yang menjamur di awal tahun 2000-an,\nanak-anak Ibu Manih rajin mengabadikan momen bersama teman-teman dan warga di\nlingkungan sekitar. Selain itu, foto-foto lain juga didapat dari hasil jepretan\ntukang foto bersepeda ontel keliling kampung yang membawa <em>kodak<\/em>. Setiap\nfoto yang diambil tukang foto keliling akan selesai cetak satu minggu\nsetelahnya. Cerita ini meruntuhkan pemahaman saya bahwa fotografi hanya bisa\ndiakses kelas elit perkotaan. Baik foto hasil jepretan sendiri maupun tukang\nfoto keliling, keduanya menunjukan bahwa kesadaran dokumentasi yang demokratis dipraktikan\npula oleh warga di lingkungan gang-gang kampung Jagakarsa.<\/p><\/span><span style=\"color:#000000;\"><p class=\"MsoNormal\"><br><\/p><\/span><span style=\"color:#000000;\"><p class=\"MsoNormal\"><o:p><\/o:p><\/p><p class=\"MsoNormal\">Pengalaman bekerja dengan arsip dokumentasi warga membantu\nsaya untuk menyusuri cerita dengan lebih cair dan organik. Arsip-arsip itu\ntidak hanya menyampaikan nilai informasi, tetapi juga mendekatkan kami sebagai kolaborator\nwarga dengan subjek-subjek yang tinggal di sekitar dam. Pengalaman yang lebih \u201ccanggung\u201d\ntentu akan saya dapatkan ketika membawa data informasi atau visual dari luar. Di\nsitu lah nilai kekuatan dari arsip komunitas warga, tidak hanya berfungsi\nsebagai alat penggali informasi, tetapi juga menjadi medium mendekatkan hubungan\nsosial yang sebelumnya berjarak.<br><br><o:p><\/o:p><\/p><p>\n<\/p><p class=\"MsoNormal\">Saya jadi membayangkan bagaimana si tukang foto keliling\nberinteraksi dengan warga yang ia abadikan di setiap gang. Mungkin saja ia\npunya ikatan sosial yang cukup kuat dengan ruang, tempat, orang, tokoh yang ia temui. Lapisan\nafektif dari arsip semacam itu barangkali tidak muncul dari praktik\npendokumentasian yang dilakukan oleh para fotografer kehidupan warga kota di masa lalu, seperti Ceypas, Tillema, atau M. Ali di era kolonial.\nNarasi tentang ruang-ruang gang yang intim, tembok yang bolong, tanah yang\ndiratakan, mungkin juga tidak bisa tertangkap di dalam <em>caption <\/em>arsip-arsip institusional. Berkolaborasi dengan warga dalam membaca arsip mereka memungkinkan kita mendapatkan pengetahuan\nbaru sekaligus teman atau saudara baru.<\/p><\/span><p class=\"MsoNormal\"><o:p><\/o:p><\/p>\n\n\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/665"}],"collection":[{"href":"https:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=665"}],"version-history":[{"count":11,"href":"https:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/665\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":688,"href":"https:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/665\/revisions\/688"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=665"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=665"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=665"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}