{"id":626,"date":"2023-01-28T08:35:23","date_gmt":"2023-01-28T08:35:23","guid":{"rendered":"http:\/\/rifandinugroho.com\/?p=626"},"modified":"2023-01-28T08:46:34","modified_gmt":"2023-01-28T08:46:34","slug":"ngrembes-pameran-arsip-17-tahun-anstardam","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/rifandinugroho.com\/?p=626","title":{"rendered":"Ngrembes: Pameran Arsip 17 Tahun Anstardam"},"content":{"rendered":"\n\n\n\n\n\n\n\n<span style=\"color:#000000;\"><p class=\"MsoNormal\">Perkumpulan Anak Sekitar Dam (Anstardam) muncul secara\nnatural bersamaan dengan terbangunnya danau buatan milik Kebun Binatang Ragunan\ndi dataran rendah sekitar Gang Haji Namun, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada tahun\n2006. Waktu itu, sisa tanah urug proyek terbengkalai menggunung di sekitar\npermukiman warga. Sekumpulan pemuda yang berteman sejak kecil lalu meratakannya\nuntuk lapangan sepak bola. Dari situ, Anstardam terus tumbuh sebagai kolektif beranggotakan\nwarga sekitar. Bermula dari format tim sepak bola, lambat laun mereka\nberkembang menjadi himpunan pecinta alam yang kini disebut sebagai Himpala\nAnstardam.<br><br><o:p><\/o:p><\/p><p class=\"MsoNormal\">Hubungan lintas generasi anak-anak Anstardam terbentuk dari\ninteraksi sehari-hari di ruang-ruang intim sekitar gang. Seban, serambi depan\nrumah warga, milik (alm.) Abah Madrais bin Haji Sarmali, jadi <i>base camp<\/i>\ntongkrongan Anstardam. Karena masih dalam jangkauan kontrol sosial tetangga,\ntempat itu dipercaya para orang tua sebagai ruang aman untuk anak-anak.\nAnstardam bahkan dipercaya generasi tua mengorganisir banyak aktivitas di luar\nstruktur formal RT, seperti liga sepak bola antar kampung, perayaan 17-an,\nproduksi <i>merchandise<\/i>, kompetisi layangan, tur wisata warga dan aktivitas\nsosial kemanusiaan. <o:p><\/o:p><\/p><p class=\"MsoNormal\"><br>Anak-anak Anstardam tidak hanya mengalami perubahan lanskap\nlingkungan Jalan Durian dari tahun ke tahun, tetapi juga turut aktif memproduksi\nruang publik alternastif. Mereka menyaksikan empang-empang yang diurug, kebun-kebun\nyang menjadi rumah, jalan tanah yang berganti aspal. Beberapa kali akses menuju\nlahan lapangan dan dam ditutup tembok pembatas oleh pihak pemilik lahan.\nTetapi, di mana ada pembatas, di situ ada jebolan. Tembok-tembok itu mereka lubangi\nagi. Dengan begitu, warga punya akses ke \u201cruang publik\u201d lapangan, dam, dan\nakses jalan yang lebih efisien ke lingkungan sekitar.<br><br><o:p><\/o:p><\/p><p class=\"MsoNormal\">Belakangan, banjir merendam kampung setiap kali hujan deras karena\narea resapan semakin berkurang. Air tidak hanya meluber dari kali, tetapi <i>ngrembes\n<\/i>dari bawah lantai rumah. Meski demikian, bagi anak-anak Anstardam, banjir\nselalu menjadi perekat solidaritas sosial, menjadi momen ketika sesama tetangga\nsaling bantu. Dari solidaritas di kampung sendiri, lambat laun Anstardam\nbergerak menjalankan misi kemanusiaan setiap ada bencana di tempat lain. <i>Ngrembes\n<\/i>barangkali jadi perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan praktik kolektif\nAnstardam. Solidaritas sosial mereka <i>ngrembes <\/i>seperti air, dari generasi\nke generasi, dari gang kampung ke tembok batas dam, dari lanskap alami\nJagakarsa ke lanskap alam lainnya. Praktik kolektif yang organik dan bermula\ndari kesadaran sosial sehari-hari semacam ini mungkin jarang kita temui lagi di\ndalam lingkungan kota saat ini yang semakin individualistis dan materialistis. <br><br><o:p><\/o:p><\/p><p>\n\n\n\n\n\n\n\n<span style=\"line-height: 107%;\"><font face=\"Calibri, sans-serif\"><span style=\"font-size: 11pt;\">Pameran ini menampilkan arsip-arsip perjalanan\n17 tahun Anstardam lewat koleksi arsip foto, poster, ingatan warga, dan\nobjek-objek yang diproduksi Anstardam sepanjang perjalanan berkolektif.\nFoto-foto lama sebagian besar dirawat dengan baik oleh keluarga Ibu Manih dan\n(alm.) Abah Madrais bin Haji Sarmali. Beberapa foto diambil oleh anak-anak\nmereka, sebagian lainnya diambil oleh beberapa tukang foto keliling yang\nbersepeda ontel membawa \u201ckodak\u201d dari kampung ke kampung di awal 2000-an. Selain\nkoleksi lawas, foto-foto dan poster kegiatan terbaru diambil dari media sosial\nHimpala Anstardam yang kini dikelola oleh generasi termuda mereka. Kumpulan\narsip dan objek tersebut kemudian diinterpretasikan ulang oleh anak-anak\nAnstardam, berkolaborasi dengan seniman dari Gudskul Ekosistem.<\/span><span style=\"font-size: 14.6667px;\"><br><\/span><\/font><\/span><font face=\"Calibri, sans-serif\"><span style=\"font-size: 14.6667px;\"><br><br><\/span><\/font><b>Kolaborator Pameran<br><\/b><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;\"><br>Satria (Manyun)<br><\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;\">Satriyawan (Awenk)<br><\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;\">Ridwan (Lontong)<br><\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;\">Sahrul (Alunk)<br><\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;\">Wildan (Dancok)<br><\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;\">Hengki (Olenk)<br><\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;\">Soemantri Gelar<br><\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;\">Degi Bintoro<br><\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;\">Angga Cipta<br><\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;\">Rifandi Nugroho<\/span><\/p><\/span><span\u00a0style=\"color:#000000;\"><p><span style=\"font-size:11.0pt;line-height:107%;font-family:&quot;Calibri&quot;,sans-serif;\nmso-ascii-theme-font:minor-latin;mso-fareast-font-family:Calibri;mso-fareast-theme-font:\nminor-latin;mso-hansi-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Arial;\nmso-bidi-theme-font:minor-bidi;mso-ansi-language:EN-US;mso-fareast-language:\nEN-US;mso-bidi-language:AR-SA\"><\/span><br><\/p>\n<\/span\u00a0style=\"color:#000000;\">\n\n<p><span\u00a0style=\"color: rgb(0,=\"\" 0,=\"\" 0);\"=\"\"><\/span\u00a0style=\"color:><\/p>\n\n\n\n\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/626"}],"collection":[{"href":"http:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=626"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/626\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":658,"href":"http:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/626\/revisions\/658"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=626"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=626"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/rifandinugroho.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=626"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}